Gejala Gangguan Pendengaran

 

Telinga terdiri dari 3 unsur utama, yakni telinga unsur luar, telinga unsur tengah, dan telinga unsur dalam. Gelombang suara masuk lewat telinga unsur luar dan mengakibatkan getaran pada gendang telinga.
Gendang telinga dan 3 tulang kecil di telinga unsur tengah lantas melipatgandakan getaran ke telinga unsur dalam. Selanjutnya, getaran masuk ke dalam cairan di lokasi tinggal siput (koklea) yang mengandung rambut tipis.
Getaran lantas menempel ke saraf rambut tipis itu dan diolah menjadi sinyal listrik yang diantarkan ke otak. Sinyal listrik akhirnya diolah otak menjadi suara yang didengar.
Saat terjadi gangguan dari proses ekspedisi getaran suara dan penerimaan suara yang sudah diolah, maka pendengaran bakal terganggu. Di bawah ini ialah gejala yang bisa timbul dampak gangguan pendengaran:

• Suara atau ucapan terdengar pelan
• Selalu menyetel suara TV dan musik dengan volume keras
• Telinga berdenging atau tinnitus
• Kesulitan mendengar ucapan orang beda dan salah menciduk hal yang dimaksud, terutama saat berada di keramaian
• Kesulitan mendengar suara konsonan dan suara bernada tinggi
• Perlu berkonsentrasi keras guna mendengar urusan yang disebutkan orang
• Sering meminta orang lain guna mengulang pembicaraan, berkata dengan lebih jelas, pelan, atau keras
• Sering mengelak dari kondisi sosial
Gejala-gejala gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak sedikit bertolak belakang dengan orang dewasa. Beberapa fenomena gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak merupakan:
• Tidak kaget ketika mendengar suara nyaring
• Tidak menoleh ke arah sumber suara (bagi bayi yang berusia 4 bulan ke atas)
• Tidak dapat menuliskan satu kata pun ketika sudah berusia selama 15 bulan
• Tidak mendengar saat dipanggil namanya dan baru menyadari kehadiran seseorang saat melihat
• Lambat ketika belajar bicara atau tidak jelas saat berbicara
• Sering berkata dengan lantang atau menyetel TV dengan volume keras
• Jawaban anak tidak cocok dengan pertanyaan
• Anak meminta Anda guna mengulang ucapan atau pertanyaan

Kapan mesti ke dokter
Lakukan pengecekan ke dokter andai mengalami fenomena di atas, terutama saat gangguan pendengaran itu mengganggu pekerjaan sehari-hari. Segera temui dokter bila seketika tidak dapat mendengar apa pun.
Lakukan kontrol ke dokter andai Anda merasa bahwa keterampilan pendengaran kita menurun secara bertahap, terutama andai Anda pernah menderita infeksi telinga, diabetes, hipertensi, gangguan jantung, stroke, dan cedera otak, sebelumnya.
Idealnya, pengecekan pendengaran usahakan dilaksanakan setiap tahun atau paling tidak masing-masing 10 tahun sekali sampai Anda berusia 50 tahun. Setelah umur 50 tahun, kerjakan pemeriksaan pendengaran paling tidak setiap 3 tahun sekali.

Diagnosis Gangguan Pendengaran
Dokter bakal bertanya tentang keluhan yang diderita dan riwayat kesehatan pasien. Dokter pun menanyakan untuk pasien tentang suara yang tidak jarang didengar, dan pekerjaan yang sering dilaksanakan atau baru dilaksanakan sebelum merasakan gangguan pendengaran.
Selanjutnya, dokter akan mengerjakan pemeriksaan dengan memakai otoskop untuk mengecek saluran telinga unsur luar dan menyaksikan gendang telinga. Dari pengecekan itu, dokter akan menyaksikan apakah ada kehancuran pada gendang telinga, sumbatan, peradangan, atau infeksi pada drainase telinga.
Selain pengecekan tersebut, dokter bakal meminta pasien menjalani tes pendengaran berupa:
• Tes garpu tala, untuk mengecek apakah terjadi gangguan pendengaran dan mendeteksi letak kehancuran pada telinga
• Tes audiometri ucapan, untuk memahami seberapa lembut atau seberapa kecil ucapan yang bisa didengar dan dimengerti
• Tes audiometri nada murni, untuk memahami rentang nada yang bisa didengar
• Tes timpanometri, guna mengukur desakan pada membran telinga dan telinga unsur tengah serta mendeteksi adanya hambatan atau kelainan pada gendang telinga